

(Ist)
INILAH.COM, Jakarta – Kebijakan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga di level tinggi yang berseberangan dengan tren pemangkasan suku bunga global, dinilai mempunyai misi tersembunyi. Pasalnya, tidak ada yang diuntungkan dari situasi ini.
Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bambang Soesatyo mengatakan, saat ini bank-bank sentral seluruh dunia menurunkan suku bunga acuannya sebagai cara bersama mengatasi meluasnya krisis finansial. Namun, BI justru membiarkan BI rate melengang di kisaran tinggi.
“Saya kira ada indikasi-indikasi hidden agenda. Karena kasat mata terlihat bahwa kebijakan-kebijakan Bank Indonesia justru kontraproduktif karena bertentangan dengan tren dunia. Kita curiga ada apa di balik ini semua,” ujarnya.
Menurutnya, hidden agenda itu berupa kebijakan-kebijakan kontraproduktif BI yang selalu merongrong, sehingga pemerintahan dikhawatirkan mengalami kegagalan. Pasalnya, BI adalah kunci kebijakan moneter yang mempunyai pengaruh besar terhadap kelangsungan perekonomian negara. Lebih lanjut Bambang mengatakan bahwa BI harus menghindari terjadinya hidden agenda, yaitu dengan mulai menurunkan suku bunganya. Hal ini mengingat tidak ada pihak yang diuntungkan dari suku bunga tinggi.
Berikut kutipan wawancaranya
Ada kabar perbankan mengetatkan pemberian kredit, apa pendapat anda?
Jadi, Kadin mensinyalir bahwa perbankan sudah mulai memperketat kredit. Menurut saya pengetatan itu sama saja dengan penghentian. Dengan persyaratan lebih ketat, bahkan di beberapa sektor penghentian itu menjadi nyata. Bahwa yang sudah diteken akad kreditnya, itu menjadi ditunda bahkan dibatalkan.
Kita sangat menyesalkan dalam situasi seperti ini kebijakan Bank Indonesia mengambil langkah-langkah yang kontraproduktif. Seharusnya, justru dalam kondisi ini, likuiditas harus segera dicairkan agar ada pergerakan ekonomi, ada pembangunan, dan masyarakat bisa bekerja.
Sektor apa saja yang terhambat kucuran kreditnya?
Setahu saya, sektor perkebunan minyak kelapa sawit (CPO), dan sekarang mulai mengarah ke properti. Dampaknya luar biasa, karena ini akan menghentikan kegiatan korporaasi. Artinya, ancaman PHK semakin nyata ke depan. Kemudian, karena tidak ada pekerjaan, maka daya beli masyarakat semakin tertekan. Ini ancamannya kepada krisis sosial, lebih bahaya dari krisis moneter 1998.
Lalu, apa alasan BI tetap mempertahankan suku bunganya?
Saya kira ada indikasi-indikasi hidden agenda karena kasat mata terlihat bahwa kebijakan-kebijakan BI justru kontraproduktif karena bertentangan dengan tren dunia. Kita curiga ada apa di balik ini semua. Saya kira itu merupakan kebijakan kontraproduktif, karena tren global justru menurunkan suku bunga mereka.
Kami menduga ada hidden agenda berupa kebijakan-kebijakan BI yang selalu kontraproduktif sehingga merongrong pemerintahan. Saya lihat ada hidden agenda agar pemerintah dinilai tidak sukses dan saya khawatir kondisi ini bertambah parah dan pemerintah berhenti di tempat. Pasalnya, BI adalah kunci kebijakan moneter yang mempunyai pengaruh besar terhadap kelangsungan perekonomian negara.
Menurut Kadin sendiri, suku bunga yang wajar di kisaran berapa?
Yang paling moderat itu, seharusnya BI menurunkan sampai 8,5% dari sekarang di 9,5%. Sehingga suku bunga kredit akan jatuh pada kisaran 10%-11%. Angka ini merupakan suku bunga yang masih bisa ditanggung pengusaha dan masyarakat.
Karena masyarakat sebagai konsumen perbankan juga butuh kredit untuk rumah dan segala macam. Yang parah, dengan kondisi seperti ini, pinjaman mereka menjadi bertambah berlipat-lipat. Sehingga, suku bunga tinggi tidak saja memberatkan pengusaha tetapi juga masyarakat.
Apa yang harus dilakukan pemerintah?
Langkah pemerintah yang paling penting adalah mendesak BI menurunkan suku bunga. Selain memberikan jaminan penuh terhadap dana nasabah di perbankan yaitu memberikan blanket guarantee. Kalau dua langkah itu dilakukan, merupakan salah satu solusi untuk memperkeci kerusakan saat ini.
Karena itu, kita tidak bicara pertumbuhan ekonomi yang 6% di 2009, mencapai 5% pun sudah bagus. Belum lagi ada pemilu, jadi sangat sulit untuk menentukan pertumbuhan di posisi 6% di 2009. Karena, kucuran recovery untuk satu setengah tahun ke depan. (E2)
- Yanuar Rizky
BUMI Tunggu Digoreng - Purbaya Yudhi Sadewa
Akumulasi BUMI untuk Jangka Panjang - Arianto A Patunru
Lembaga Dana ASEAN Hanya Pelengkap - Gunaryo
Harga Sembako 2009 Berpeluang Turun - Hendri Saparini
Kelangkaan Pangan Jadi Ancaman - Achmad Rizal
Cicil Mobil Toyota Sekarang Gampang - Farial Anwar
Tutup Tahun, Rupiah di 11 Ribu - Purbaya Yudhi Sadewa
Gerakan BNBR, Aneh! - Yanuar Rizky
Tekanan Jual Hingga Akhir Tahun - Alfi Wijaya
2009: Perbankan Syariah Tetap Eksis - Syamsul Hadi
Ekonomi Indonesia Seperti Benalu - Muhammad Alfatih
IHE Beli BUMI Ada Maksudnya - MS Sembiring
Simak Public Expose BNBR - Arianto A Patunru
Tantangan Kadin adalah Tenaga Kerja - Yanuar Rizky
Window Dressing Sulit Angkat Saham