

(inilah.com/Bayu Suta)
INILAH.COM, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhir pekan ini kembali ditutup di zona merah, meskipun koreksi yang terjadi tidak terlalu tajam. Saham sektor keuangan memimpin penurunan indeks saham dengan anjlok hingga 4,23%.
Pada perdagangan saham Jumat (21/11) IHSG ditutup turun 8,694 poin (0,75%) menjadi 1.146,276. Indeks LQ-45 turun 2,402 poin (1,1%) menjadi 215,979 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 0,916 poin (0,51%) menjadi 179,355.
Pada awal perdagangan, IHSG dibuka anjlok 2,61% di level 1.124 dan terus merosot hingga sesi siang berada di level 1.126. Pada sesi kedua, IHSG mampu menguat hingga ditutup di level 1,146, meski masih di zona merah.
Analis Bhakti Securities Budi Ruseno mengatakan, bursa melemah karena belum ada sentimen positif yang mampu mengangkat IHSG, baik dari internal maupun eksternal.
Menurutnya, pergerakan bursa regional berpengaruh cukup besar pada IHSG. Terpuruknya bursa Wall Street dini hari tadi sempat menekan bursa kawasan termasuk Indonesia. “Hal ini memicu aksi jual di pasar,” ujarnya.
Bursa AS kembali anjlok karena outlook ekonomi yang memburuk, dengan indikasi terjadi kenaikan angka pengangguran sebesar 27 ribu menjadi 542 ribu orang, merupakan level tertinggi sejak Juli 1992. Selain itu juga diperparah dengan sentimen permintaan bailout dari tiga perusahaan otomotif raksasa AS.
Lebih lanjut Budi mengatakan, harga komoditas yang melemah dan merosotnya kurs rupiah hingga menembus level 13 ribu per dolar AS, memberi sentimen negatif pada pergerakan indeks. “Namun, karena bursa regional bergerak cukup positif, investor akhirnya berani kembali masuk pasar dan membeli dalam jumlah terbatas,” timpalnya.
Sektor yang mengalami penurunan terbesar adalah sektor keuangan yang jatuh 4,23% ke 132.38, kemudian sektor properti anjlok 1,58% ke 93,44, dan sektor infrastruktur yang turun 0,49% ke level 408,76.
Sedangkan sektor dengan penguatan terbesar adalah perkebunan yang naik 2,31% ke 707,48, pertambangan naik 1,27% ke level 800,59 dan sektor industri dasar yang naik 0,14% ke level 111,14.
Di pasar Asia, harga kontrak minyak Januari turun US$ 1,17 (2,4%) dan diperdagangkan di level US$ 48,25 per barel, berkurang hampir US$ 100 sejak rekor 11 Juli lalu. Sementara harga minyak mentah kontrak Desember turun US$ 4,68 (8,7%).
Harga minyak mentah turun tajam ke level terendahnya sejak Mei 2005. Krisis ekonomi global telah mengakibatkan permintaan minyak mentah anjlok ke level terendahnya dalam 23 tahun belakangan. Adapun harga minyak mentah diprediksi akan mengalami penurunan mingguan sebesar 15% pekan ini.
Sedangkan bursa regional akhir pekan ini ditutup bervariasi. Indeks Shanghai Composite di bursa Cina turun 14,37 poin (0,72%) pada level 1.969,39. Sedangkan selama sepekan, indeks mengalami penurunan 0,86%. Indeks Hang Seng di bursa Hong Kong naik 360,64 poin (2,93%) ke level 12.659,2.
Indeks Nikkei naik 207,75 poin (2,7%) pada level 7.910,79 sedangkan indeks Topix naik 20,41 poin (2,6%) pada level 802,69. Selama sepekan, indeks turun 6,5% dengan pergerakan harga yang berfluktuasi besar.
Sementara itu, indeks Kospi di bursa Korea naik 55,04 poin (5,8%) pada level 1.003,73 setelah sempat melemah 3,6%. Kenaikan dipicu spekulasi pemotongan suku bunga oleh pemerintah China di akhir minggu serta menguatnya pasar asia lainnya seperti Jepang, Taiwan dan Hongkong.
Indeks STI di bursa Singapura naik 50,82 poin (3,15%) ke level 1,664.77, indeks Sensex India naik 205,81 poin (2,44%) pada level 8.656,82 dipicu aksi beli terhadap sektor metal dan indeks KLCI di bursa Malaysia naik 1,56 poin (0,18%) ke level 866,88 dipicu kenaikan sektor konstruksi.
Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia mencatat transaksi 51.835 kali, dengan volume 2,369 miliar unit saham, senilai Rp 1,571 triliun. Sebanyak 58 saham naik, 75 saham turun dan 45 saham stagnan.
Saham-saham yang meorosot harganya antara lain, PT Telkom (TLKM) turun Rp 250 menjadi Rp 5.500, PT Bank Central Asia (BBCA) turun Rp 125 menjadi Rp 2.575, PT Bayan (BYAN) turun Rp110 menjadi Rp 1160, dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 75 menjadi Rp 2.525.
Saham lainnya yakni PT Bank Danamon (BDMN) turun Rp 75 menjadi Rp 1.900, PT Bumi Resources (BUMI) turun Rp 70 menjadi Rp 710, dan PT Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 10 menjadi Rp 1.330.
Saham-saham yang naik harganya antara lain, PT International Nickel Indonesia (INCO) menguat Rp 190 ke posisi Rp 2.020 dan PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) terangkat Rp 160 ke level Rp 1.760, serta PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp 150 menjadi Rp 7.150.
Demikain pula saham PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) menguat Rp 150 ke posisi Rp 5.400, PT Astra Agro Lestari (AALI) terangkat Rp 100 ke level Rp 6.550 dan PT United Tractors (UNTR) naik Rp 25 menjadi Rp 3.175. [E1]
- AGIS Siap Akuisisi Comstar dan Erafone
- Wah! Radiant Makin Ekspansif
- 'Rating' Obligasi Tunas Finance Naik
- Saham Baru CTBN Dilepas 7 Januari
- Kasus Sarijaya Ikut Kikis IHSG
- SMGR 'Buyback' Saham Rp 193,51 M
- IHSG tak Berdaya, Turun 1,8 Poin
- Inilah Kronologi Suspensi Sarijaya!
- BEI akan Panggil Perusahaan Sekuritas
- 3 Aset Sarijaya Dijaminkan
- Bapepam 'Open' Bagi Nasabah Sarijaya
- Sarijaya Bisa Didelisting
- ANTM Akui Pangkas Target Produksi
- BEI Kaji 'Delisting' 3 Emiten
- EXCL Tawar Biaya Tambah Frekuensi 3G