

(inilah.com/Abdul Rauf)
INILAH.COM, Jakarta - Rupiah akhir pekan ini bergerak dengan volatilitas cukup tinggi. Setelah menembus level terendahnya di 13 ribu per dolar AS, rupiah kembali menguat lagi ke posisi 12 ribu per dolar AS. Tekanan aksi buru dolar masih kuat.
Kurs rupiah di pasar spot antar bank, Jumat (21/11) ditutup menguat 230 poin ke posisi 12.070 per dolar AS, dibandingkan penutupan kemarin di level 12.300. Rupiah sepanjang perdagangan sempat anjlok hingga ke level 13.100 per dolar AS.
Dealer valas Bayu Fadjar Aini mengatakan, rupiah sempat melemah hingga level 13 ribu per dolar AS setelah BI mengumumkan pengambialihan Bank Century terkait masalah likuiditas.
Namun, lanjutnya, hal utama yang menekan pergerakan rupiah adalah aksi buru dolar oleh investor. “Likuiditas dolar sangat tipis di pasar, sehingga ketika orang membeli dalam jumlah besar, rupiah langsung jatuh,” katanya.
Sepanjang November rupiah terpantau mengalami penurunan 12% sementara pada 2008 rupiah telah merosot 25%. Mata uang RI itu mengalami tekanan akibat aksi perburuan dolar. Selain untuk memenuhi kebutuhan korporasi menjelang akhir tahun, dolar juga digunakan sebagai investasi safe haven di tengah memburuknya ekonomi dunia.
Sementara Dirut Finance Corpindo Edwin Sinaga mengatakan, pelemahan rupiah hingga di atas angka 12.500 per dolar AS dinilai wajar, karena semua mata uang utama Asia juga terpuruk cukup dalam. "Kami kira wajar apabila rupiah sampai di posisi tersebut, karena tekanan gejolak krisis keuangan global cukup kuat," ucapnya.
Kondisi ini pun dinilai BI masih masuk akal, sehingga bank sentral masih menahan diri, dengan tidak melakukan intervensi terlalu dalam. “Apabila tekanan negatif pasar yang terus terjadi menjadi irrasional (tidak wajar), kemungkinan besar BI akan terus melakukan intervensi dengan melepas cadangan devisanya,” katanya.
Rupiah, menurut Edwin, masih sulit menguat pesat meskipun BI telah menggunakan semua instrumennya untuk melonggarkan likuiditas. Seperti menurunkan bunga Giro Wajib Minimum (GWM) dari 9% menjadi 7,5%, pembatasan transaksi, dan pengawasan valas serta kenaikan suku bunga acuannya BI Rate.
Edwin mengatakan, dampak krisis keuangan global memang sangat berat, bahkan Amerika Serikat kini telah menuju ke resesi, namun kepercayaan masyarakat terhadap dolar AS tetap tinggi. “Akibatnya dolar menguat terhadap semua mata uang utama Asia,” katanya.
Lebih lanjut ia mengakui sulit memperkirakan sampai sejauh mana sentimen negatif pasar global akan menekan rupiah. Pasalnya, pemerintah juga hanya mengikuti pergerakan pasar. “Pemerintah sendiri juga tidak dapat berbuat apa-apa, hanya mengikuti kehendak pasar, apalagi cadangan devisa Indonesia makin tergerus,” ucapnya.
Namun, ia berharap, semua pihak menyadari bahwa saat ini nilai tukar rupiah sedang memasuki keseimbangan baru. Semua yang terkait terutama pebisnis diharapkan menyadari bahwa dolar AS tidak akan kembali ke posisi di bawah 10 ribu.
"Semua harus mengubah cara berpikirnya tidak hanya dolar AS yang tidak akan kembali ke level 9.000 tetapi juga menyadari bahwa target pertumbuhan ekonomi pada level 6% pada 2009 pun akan sangat sulit," katanya.
BI pun memegang komitmennya untuk terus berada di pasar dan menjaga nilai tukar rupiah. "BI akan menjaga kurs pada tingkat yang realistis, bagus bagi perekonomian dan BI tetap di pasar. Kalau perang kan harus merahasiakan amunisi, itu adalah bagian kita tetap di pasar dan terus di pasar," ujar Gubernur BI Boediono.
Menuruntya, saat ini BI tetap menggunakan cadangan devisa untuk menstabilkan kurs rupiah. Adapun hingga akhir Oktober 2008, cadangan devisa tercatat US$ 50,4 miliar.
" Cadangan devisa saat ini sekitar US$ 50 miliar memang jauh lebih kecil dibandingkan China dan AS. Namun kita akan tetap menjaga lalu lintas devisa dan rupiah," ungkapnya.
Rupiah pada perdagangan valas pukul 17.03 WIB terpantau berada di level 7.834,93. Atas dolar Singapura, di level 15.119,05 atas mata uang gabungan negara Eropa dan di level 7.515,60 atas dolar Australia. [E1]
- Awas! CAR 20 Bank di Bawah 12%
- Wah! BCA Tambah 700 Gerai ATM
- Euforia Deflasi, Vitamin Rupiah
- BCA Radio Dalam Kebobolan Rp 26 M
- Yes! Stimulus Fiskal Cair Rp 12,5 T
- Investasi Reksadana Butuh Nyali
- Reksadana Saham? Lupakan Dulu!
- Stimulus Rp 50 T Jangan Jadi Pepesan Kosong
- Depkeu Kurangi Penerbitan SUN
- Menkeu: Silpa Untuk Tutup Defisit
- Rupiah Respon Deflasi Desember
- Telkom Tawari 800 Karyawan Pensiun Dini
- Silpa 2009 Fokus ke Infrastruktur
- Inilah Penerima Anggaran Terbesar 2009!
- Paket Stimulus Harus Tepat Sasaran